Jelajahi
AI & Technology

100 Persen Pulih dalam Hitungan Hari — Ini Cara Telkomsel Memulihkan Jaringan di Flores Pascagempa M

M Tajul Munandar
19 August 2026 7 Views 3 min read

Pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WITA, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur — dipicu aktivitas Sesar Naik Belakang Busur Flores pada kedalaman dangkal 15 kilometer. Gempa ini turut disusul ratusan gempa susulan, menyebabkan kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah, termasuk melumpuhkan sebagian besar jaringan telekomunikasi di kawasan tersebut.

Kabar baiknya, hanya dalam hitungan hari, Telkomsel bersama TelkomGroup berhasil memulihkan 100 persen seluruh site (menara BTS) yang terdampak di tujuh kabupaten — Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat — per Selasa, 18 Agustus 2026. Ini jadi contoh menarik soal bagaimana infrastruktur digital modern dipulihkan cepat di tengah kondisi bencana yang menantang.

Seberapa Parah Dampaknya?

Dari total 735 site Telkomsel yang beroperasi di wilayah terdampak, lebih dari 400 site sempat mengalami gangguan pascagempa — artinya lebih dari separuh infrastruktur jaringan di kawasan tersebut lumpuh dalam waktu bersamaan. Secara nasional, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat sekitar 200 BTS terdampak, dengan operator lain seperti Indosat Ooredoo Hutchison dan XL Smart turut mengalami gangguan serupa dan sama-sama melakukan pemulihan di wilayah tersebut.

Kenapa Gempa Bisa Melumpuhkan Jaringan Telekomunikasi?

Menurut penjelasan EVP Telkom Regional III, Rachmad Dwi Hartanto, penyebab utama gangguan bukan semata kerusakan langsung pada perangkat telekomunikasi, melainkan terputusnya pasokan listrik utama — trafo gardu induk yang jatuh, tiang listrik roboh, dan kabel distribusi listrik yang terputus akibat guncangan gempa. Tanpa pasokan listrik stabil, menara BTS dan perangkat transmisi data tidak bisa beroperasi normal, sekalipun perangkat fisiknya sendiri tidak rusak parah.

Strategi Teknis di Balik Pemulihan Cepat

Tim teknis Telkomsel menghadapi dua tantangan utama sekaligus: krisis pasokan listrik dan akses geografis yang tertutup material longsor akibat gempa. Untuk mengatasinya, dikerahkan sistem manajemen energi hibrida darurat, meliputi:

Menariknya, meski jaringan seluler sempat terganggu signifikan, infrastruktur jaringan inti (backbone) Telkomsel tetap beroperasi dengan baik sepanjang masa krisis — jalur backbone dan link cadangan berhasil menjaga keberlangsungan layanan meski sejumlah jalur transportasi jaringan sempat terputus. Bahkan, sekitar 99 persen pelanggan internet rumah di Flores dilaporkan tetap bisa menikmati layanan selama masa pemulihan berlangsung.

Dukungan buat Masyarakat Terdampak

Selama masa tanggap darurat, Telkomsel turut menghadirkan Paket Darurat seharga Rp1 — berisi kuota internet, SMS, dan menit telepon gratis, yang bisa diaktifkan lewat kode dial khusus. Langkah ini membantu masyarakat terdampak tetap bisa terhubung dengan keluarga dan mengakses informasi penting selama proses pemulihan berlangsung, tanpa terbebani biaya komunikasi di tengah situasi sulit.

Kenapa Kisah Ini Penting Dipahami Lebih Luas?

  1. Ketahanan infrastruktur digital Indonesia sedang diuji nyata oleh kondisi geografis rawan bencana — dan kasus Flores menunjukkan bahwa investasi pada sistem cadangan energi dan protokol tanggap darurat yang matang bisa mempercepat pemulihan secara signifikan.
  2. Pelaku bisnis yang bergantung pada konektivitas digital di wilayah rawan bencana perlu mempertimbangkan rencana kontinjensi serupa — termasuk memahami bahwa gangguan jaringan pascabencana sering kali lebih disebabkan krisis kelistrikan, bukan semata kerusakan perangkat telekomunikasi itu sendiri.
  3. Koordinasi lintas sektor (operator telekomunikasi, PLN, BPBD, pemerintah daerah) terbukti krusial dalam mempercepat pemulihan infrastruktur dasar pascabencana — pelajaran penting bagi perencanaan mitigasi bencana ke depan di wilayah-wilayah rawan gempa lain di Indonesia.

Pemulihan 100 persen dalam hitungan hari ini jadi pengingat bahwa di balik kemudahan konektivitas digital yang kita nikmati sehari-hari, ada kerja keras tim teknis dan infrastruktur cadangan yang dirancang matang untuk menghadapi skenario terburuk — sesuatu yang baru benar-benar terlihat nilainya justru di saat-saat krisis seperti ini.