Ada satu paradoks yang semakin sulit diabaikan dalam industri teknologi pada 2026: perusahaan-perusahaan yang menggelontorkan dana terbesar untuk kecerdasan buatan justru mulai memangkas sebagian tenaga kerja mereka.
Salah satu contoh paling mencolok datang dari Meta. Pada Mei 2026, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut memangkas sekitar 8.000 posisi, atau sekitar 10 persen dari tenaga kerjanya. Pada saat yang sama, Meta terus meningkatkan belanja infrastrukturnya untuk AI dan memperkirakan capital expenditure (capex) 2026 mencapai US$130–145 miliar.
Namun, CEO Meta Mark Zuckerberg baru-baru ini memberikan perspektif yang berbeda. Menurutnya, perkembangan AI justru telah menciptakan banyak pekerjaan baru karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan tenaga manusia dalam jumlah besar.
Sekilas, kedua fakta tersebut terlihat bertentangan.
Namun jika dilihat lebih dekat, sebenarnya ada perbedaan penting antara pekerjaan yang hilang di dalam perusahaan teknologi dan pekerjaan baru yang tercipta di seluruh ekosistem AI.
Meta Benar-Benar Memangkas Sekitar 8.000 Pekerjaan
Pada 20 Mei 2026, Meta mulai menjalankan rencana pengurangan tenaga kerja sekitar 10 persen. Bloomberg melaporkan pemangkasan tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memberi ruang bagi investasi perusahaan yang semakin besar di AI.
Data resmi Meta kemudian memperlihatkan dampaknya dalam laporan keuangan kuartal II.
Per 30 Juni 2026, Meta memiliki 75.472 karyawan, turun dibanding periode sebelumnya. Perusahaan juga mencatat sekitar US$1,18 miliar biaya pesangon yang berkaitan dengan pengurangan tenaga kerja pada Mei.
Menariknya, pemangkasan tersebut tidak berdiri sendiri.
Sekitar 7.000 karyawan lainnya dialihkan ke inisiatif baru yang berkaitan dengan AI, sementara Meta juga membatalkan sekitar 6.000 posisi yang sebelumnya direncanakan untuk direkrut.
Jadi, gambaran sebenarnya bukan sekadar:
"Meta mengganti 8.000 manusia dengan AI."
Yang terjadi lebih kompleks: Meta sedang mengurangi sebagian posisi, menghentikan perekrutan tertentu, sekaligus memindahkan sumber daya manusia ke area yang dianggap lebih strategis untuk perlombaan AI.
Meta Justru Menghabiskan Dana Fantastis untuk AI
Di sisi lain, investasi infrastrukturnya bergerak ke arah yang berlawanan.
Dalam laporan kuartal II 2026, Meta menaikkan perkiraan belanja modal sepanjang tahun menjadi US$130–145 miliar. Angka ini mencakup pembangunan data center, server, jaringan, chip, dan infrastruktur lainnya yang diperlukan untuk mendukung AI serta operasional bisnis perusahaan.
Pada kuartal II saja, Meta mengeluarkan sekitar US$31,08 miliar untuk capital expenditure.
Artinya, angka US$100 miliar lebih yang sering muncul dalam pemberitaan memang memiliki dasar, tetapi lebih tepat disebut sebagai belanja modal/infrastruktur perusahaan, bukan seluruhnya sebagai "investasi AI" dalam arti sempit.
Sebagian besar pengeluaran tersebut memang didorong oleh kebutuhan AI, tetapi juga mencakup kebutuhan infrastruktur bisnis Meta secara keseluruhan.
Lalu Kenapa Zuckerberg Mengatakan AI Menciptakan Lapangan Kerja?
Pernyataan Zuckerberg menjadi menarik karena ia tidak mengatakan bahwa semua pekerjaan akan aman dari AI.
Dalam wawancara menjelang laporan keuangan kuartal II, Zuckerberg mengatakan pekerjaan yang berkaitan dengan AI secara keseluruhan telah menciptakan banyak lapangan kerja karena ada kebutuhan besar untuk membangun infrastrukturnya.
Yang dimaksud terutama adalah pekerjaan di balik pembangunan ekosistem AI.
Mulai dari:
- konstruksi data center,
- teknisi kelistrikan,
- sistem pendingin,
- pekerja jaringan,
- teknisi perangkat keras,
- operator fasilitas,
- hingga berbagai pekerjaan engineering dan maintenance.
Dengan kata lain, AI tidak hanya membutuhkan programmer dan peneliti machine learning.
AI membutuhkan dunia fisik yang sangat besar untuk bisa beroperasi.
Model AI membutuhkan server. Server membutuhkan data center. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar. Listrik membutuhkan sistem distribusi dan pendinginan. Semua itu membutuhkan manusia.
Inilah konteks penting di balik pernyataan Zuckerberg.
Jadi, AI Menciptakan Pekerjaan atau Menghilangkan Pekerjaan?
Jawabannya bisa keduanya sekaligus.
Inilah bagian yang sering hilang dalam perdebatan tentang AI.
Sebuah teknologi tidak harus secara langsung menggantikan seseorang untuk mengubah pasar tenaga kerja.
Misalnya, perusahaan menggunakan AI untuk membuat pekerjaan software engineer lebih cepat. Perusahaan mungkin tidak langsung memecat semua programmer.
Namun jika sebelumnya dibutuhkan 100 orang untuk mengerjakan suatu pekerjaan dan dengan bantuan AI cukup 70 orang, perusahaan memiliki beberapa pilihan:
- mempertahankan 100 orang dan meningkatkan output;
- menggunakan 30 orang yang "tersisa" untuk proyek baru;
- mengurangi jumlah tenaga kerja;
- atau mengombinasikan ketiganya.
Meta tampaknya sedang menjalankan kombinasi dari beberapa pendekatan tersebut.
Yang Berubah Bukan Cuma Jumlah Pekerjaan, tapi Komposisinya
Ini mungkin merupakan pelajaran terbesar dari kasus Meta.
Pekerjaan yang berkurang dan pekerjaan yang bertambah tidak harus berasal dari kategori yang sama.
Pekerjaan administratif tertentu bisa berkurang, sementara kebutuhan teknisi data center meningkat.
Kebutuhan pekerjaan rutin bisa menurun, sementara kebutuhan AI engineer meningkat.
Jumlah programmer tertentu bisa dikurangi, sementara kebutuhan spesialis AI infrastructure bertambah.
Dengan demikian, mengatakan "AI menciptakan lapangan kerja" tidak otomatis berarti orang yang kehilangan pekerjaan karena otomatisasi akan langsung mendapatkan pekerjaan baru tersebut.
Ada masalah skill mismatch.
Orang yang kehilangan pekerjaan sebagai pekerja kantoran belum tentu bisa langsung bekerja sebagai teknisi kelistrikan data center.
Bahkan Data Keuangan Meta Menunjukkan Biaya Transisi yang Besar
Laporan keuangan kuartal II 2026 memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai besarnya taruhan Meta.
Pendapatan perusahaan mencapai sekitar US$60,8 miliar, naik 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun biaya dan pengeluaran meningkat jauh lebih cepat, yakni 55 persen menjadi sekitar US$42 miliar. Meta juga mencatat laba bersih sekitar US$15,85 miliar, turun 14 persen secara tahunan.
Ada dua komponen penting di balik kenaikan biaya tersebut: investasi infrastruktur yang sangat besar dan biaya lain termasuk US$1,18 miliar pesangon akibat restrukturisasi Mei.
Dengan kata lain, Meta masih merupakan perusahaan yang sangat menguntungkan, tetapi perlombaan AI membuat struktur biaya perusahaan berubah secara drastis.
Meta Bahkan Tidak Mengalami Krisis Bisnis
Hal ini juga penting diluruskan.
PHK besar-besaran tidak otomatis berarti Meta sedang bangkrut atau mengalami penurunan bisnis.
Justru pada kuartal II 2026, pendapatan Meta meningkat 28 persen menjadi US$60,8 miliar. Jumlah pengguna aktif harian rata-rata di seluruh aplikasi Meta juga mencapai sekitar 3,6 miliar, naik 3 persen secara tahunan.
Artinya, keputusan mengurangi tenaga kerja lebih tepat dilihat sebagai restrukturisasi strategis dan realokasi modal, bukan sekadar respons terhadap perusahaan yang sedang kehabisan uang.
Meta sedang memilih ke mana sumber daya perusahaan harus diarahkan.
Dan jawabannya semakin jelas: AI dan infrastruktur komputasi.
AI Mengubah Definisi "Pekerjaan yang Aman"
Kasus Meta juga menarik karena memperlihatkan bahwa pekerjaan yang tumbuh akibat AI tidak selalu merupakan pekerjaan yang paling sering dibicarakan.
Selama ini ketika membahas karier masa depan, perhatian sering tertuju pada:
- AI engineer,
- data scientist,
- software engineer,
- prompt engineer,
- machine learning researcher.
Padahal pembangunan AI dalam skala besar juga menciptakan kebutuhan terhadap pekerjaan yang jauh lebih "fisik".
Bayangkan sebuah data center AI raksasa.
Di dalamnya terdapat:
GPU/accelerator → server → jaringan → listrik → pendinginan → bangunan → keamanan → maintenance.
Semua lapisan tersebut membutuhkan manusia.
Itulah sebabnya Zuckerberg menekankan pembangunan infrastruktur ketika membicarakan lapangan kerja baru dari AI.
Tetapi Ada Satu Masalah: Pekerjaan Baru Belum Tentu Menggantikan Pekerjaan Lama
Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap narasi optimistis bahwa "AI akan menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada yang dihilangkan."
Sampai sekarang, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan secara pasti bahwa setiap pekerjaan yang hilang akibat AI akan digantikan dengan pekerjaan baru yang setara.
Bahkan sejumlah penelitian ekonomi memperingatkan bahwa otomatisasi dapat menghasilkan tekanan berbeda pada kelompok pekerja yang berbeda.
Persoalannya bukan hanya:
"Berapa banyak pekerjaan yang diciptakan?"
Tetapi juga:
"Siapa yang mendapatkan pekerjaan tersebut?"
Dan:
"Apakah keterampilan mereka cocok dengan pekerjaan baru itu?"
Meta Memberikan Gambaran tentang Arah Dunia Kerja
Jika tren ini terus berlanjut, masa depan pekerjaan kemungkinan tidak akan sesederhana "manusia versus AI".
Skenario yang lebih realistis adalah redistribusi pekerjaan.
Sebagian pekerjaan akan semakin mudah diotomatisasi.
Sebagian pekerjaan akan berubah karena AI menjadi alat kerja standar.
Sebagian pekerjaan baru akan muncul.
Dan beberapa pekerjaan yang sebelumnya dianggap tidak berhubungan dengan teknologi justru bisa mengalami peningkatan permintaan karena AI membutuhkan infrastruktur fisik.
Dengan kata lain, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi:
"Apakah AI akan mengambil pekerjaan manusia?"
Melainkan:
"Bagian mana dari pekerjaan manusia yang akan berubah karena AI, dan keterampilan apa yang akan menjadi lebih bernilai setelah perubahan itu terjadi?"
Apa Artinya bagi Pekerja di Indonesia?
Kasus Meta sebenarnya relevan jauh di luar Silicon Valley.
Bagi pekerja digital Indonesia, tren ini menunjukkan pentingnya memiliki kemampuan yang tidak hanya bergantung pada satu jenis pekerjaan rutin.
Misalnya bagi programmer, AI tidak berarti kemampuan coding menjadi tidak berguna. Justru kemampuan memahami software architecture, debugging, security, database, deployment, dan system design bisa menjadi semakin penting karena AI dapat membantu menghasilkan kode tetapi tetap membutuhkan manusia untuk menentukan apakah sistem tersebut benar-benar bekerja dengan benar.
Bagi digital marketer, AI dapat mengurangi pekerjaan produksi konten sederhana, tetapi kemampuan memahami strategi, audiens, branding, analitik, dan keputusan bisnis justru semakin penting.
Begitu pula bagi desainer, editor video, penulis, analis data, dan berbagai profesi digital lainnya.
Yang kemungkinan semakin berharga bukan sekadar kemampuan menghasilkan output, tetapi kemampuan menentukan apa yang harus dibuat, mengevaluasi hasilnya, dan bertanggung jawab atas keputusan akhirnya.
Paradoks Meta Sebenarnya Bukan Kontradiksi
Pada akhirnya, PHK 8.000 orang dan penciptaan lapangan kerja baru akibat AI bukanlah dua fakta yang harus saling bertentangan.
Keduanya bisa terjadi secara bersamaan.
Meta memang memangkas sekitar 8.000 posisi. Pada saat yang sama, sekitar 7.000 karyawan dialihkan ke pekerjaan yang berkaitan dengan AI, sementara perusahaan mengeluarkan puluhan miliar dolar untuk membangun infrastruktur komputasi.
Dan di luar Meta, pembangunan ekosistem AI membutuhkan tenaga kerja dari berbagai sektor.
Jadi, pernyataan "AI menciptakan lapangan kerja" bisa benar — tetapi itu tidak otomatis berarti "AI tidak menggantikan pekerjaan manusia."
Keduanya merupakan bagian dari transformasi yang sama.
AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja. AI juga mengubah pekerjaan mana yang dianggap bernilai, keterampilan mana yang dibutuhkan, dan ke mana perusahaan mengalokasikan modalnya.
Dan mungkin itulah perubahan terbesar yang sedang terjadi di dunia kerja pada 2026: bukan manusia tiba-tiba kehilangan semua pekerjaannya karena AI, tetapi nilai ekonomi mulai berpindah dari pekerjaan tertentu menuju pekerjaan, keterampilan, dan infrastruktur yang mendukung era AI.