Jelajahi
AI & Technology

SpaceX Kini Lebih Untung dari Bisnis AI daripada Roket — Ini Pelajaran Bisnis di Baliknya

M Tajul Munandar
07 August 2026 9 Views 5 min read

Selama lebih dari dua dekade, nama SpaceX identik dengan peluncuran roket, misi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), hingga ambisi Elon Musk membawa manusia ke Mars. Namun laporan keuangan perdana perusahaan setelah melantai di bursa saham menunjukkan perubahan besar yang mungkin tidak banyak diperkirakan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, segmen bisnis AI menghasilkan pendapatan lebih besar dibandingkan bisnis peluncuran roket.

Bukan berarti SpaceX berhenti membuat roket. Justru sebaliknya, peluncuran Falcon 9, Falcon Heavy, dan pengembangan Starship tetap menjadi fondasi bisnis perusahaan. Namun kini, mesin pertumbuhan terbesar SpaceX mulai bergeser ke layanan digital, internet satelit, dan kecerdasan buatan.

Perubahan ini mencerminkan arah baru perusahaan teknologi modern: nilai terbesar tidak lagi hanya berasal dari produk fisik, melainkan juga dari perangkat lunak, layanan cloud, dan komputasi AI.

Pendapatan Melonjak Hampir Dua Kali Lipat

Dalam laporan keuangan kuartal II 2026 (April–Juni), SpaceX membukukan pendapatan sekitar US$7,8 miliar, meningkat sekitar 92% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut juga melampaui ekspektasi analis Wall Street yang sebelumnya memperkirakan pendapatan sekitar US$6,8 miliar.

Pertumbuhan tersebut datang dari tiga lini bisnis utama:

Yang paling menarik perhatian investor adalah perubahan komposisi pendapatan.

Starlink Masih Menjadi Mesin Uang Terbesar

Meski AI menjadi sorotan, penyumbang pendapatan terbesar SpaceX masih berasal dari Starlink.

Layanan internet satelit tersebut menghasilkan sekitar US$4,2–4,3 miliar dalam satu kuartal, didukung pertumbuhan pelanggan di berbagai negara serta peningkatan penggunaan oleh pelanggan bisnis, pemerintah, dan sektor maritim maupun penerbangan.

Selama beberapa tahun terakhir, Starlink berkembang dari proyek pendukung misi luar angkasa menjadi bisnis yang mampu menghasilkan arus kas stabil.

Banyak analis bahkan menilai Starlink kini menjadi "mesin pembiayaan" berbagai proyek ambisius SpaceX, termasuk Starship.

AI Akhirnya Menyalip Bisnis Roket

Sorotan terbesar laporan keuangan ini adalah segmen AI.

Segmen tersebut membukukan pendapatan sekitar US$2,6 miliar, sementara bisnis peluncuran roket menghasilkan kurang dari US$1 miliar pada periode yang sama.

Namun angka tersebut perlu dipahami dengan konteks yang benar.

Segmen AI SpaceX bukan hanya berasal dari chatbot Grok.

Setelah restrukturisasi perusahaan, segmen ini mencakup:

Menurut analisis terhadap prospektus IPO SpaceX, sebagian besar pendapatan segmen AI saat ini masih berasal dari bisnis lama X (Twitter), sementara kontribusi Grok dan layanan AI murni masih terus bertumbuh.

Dengan kata lain, istilah "bisnis AI" dalam laporan keuangan SpaceX memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar chatbot.

Mengapa Saham Justru Turun?

Biasanya laporan keuangan yang melampaui ekspektasi membuat harga saham naik.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Setelah laporan dirilis, saham SpaceX sempat turun sekitar 12–14%.

Penyebab utamanya bukan karena pendapatan mengecewakan.

Investor justru mengkhawatirkan belanja modal (capital expenditure/capex) yang melonjak sangat besar.

Sepanjang semester pertama 2026, SpaceX menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk membangun:

Strategi tersebut membuat perusahaan masih mencatat rugi bersih pada kuartal tersebut meskipun pendapatannya tumbuh sangat cepat.

Mengapa SpaceX Rela Mengeluarkan Dana Sebesar Itu?

Jawabannya sederhana.

Dalam industri AI saat ini, komputasi adalah aset paling berharga.

Model AI modern membutuhkan ribuan bahkan puluhan ribu chip khusus yang bekerja selama berhari-hari atau berminggu-minggu untuk melatih model baru.

Akibatnya, perusahaan AI berlomba membangun pusat data berskala raksasa.

SpaceX memanfaatkan kombinasi kekuatan yang unik:

Bagi Elon Musk, investasi besar hari ini diharapkan menghasilkan posisi dominan dalam beberapa tahun ke depan.

Roket Tetap Penting, Tetapi Bukan Lagi Satu-satunya Mesin Pertumbuhan

Meski kontribusi pendapatan roket kini lebih kecil dibanding AI maupun Starlink, bisnis peluncuran tetap memiliki peran yang sangat strategis.

Falcon 9 masih menjadi salah satu roket komersial paling aktif di dunia.

Selain itu, SpaceX masih menjalankan berbagai kontrak bernilai miliaran dolar dengan NASA, Departemen Pertahanan Amerika Serikat, serta pelanggan komersial.

Roket juga menjadi fondasi bagi Starlink karena satelit-satelit internet tersebut diluncurkan menggunakan armada SpaceX sendiri.

Dengan kata lain, bisnis roket mungkin bukan lagi penyumbang pendapatan terbesar, tetapi tetap menjadi tulang punggung ekosistem perusahaan.

Pelajaran bagi Dunia Bisnis

Laporan keuangan SpaceX memberikan beberapa pelajaran menarik.

Pertama, identitas perusahaan tidak selalu sama dengan sumber pendapatan terbesarnya.

Banyak orang mengenal SpaceX sebagai perusahaan roket.

Namun secara finansial, justru Starlink dan AI yang kini menjadi mesin pertumbuhan utama.

Kedua, diversifikasi dapat menciptakan peluang baru.

Jika SpaceX hanya bergantung pada bisnis peluncuran roket, pertumbuhan perusahaan kemungkinan tidak akan secepat sekarang.

Masuk ke internet satelit dan AI membuka sumber pendapatan yang jauh lebih besar.

Ketiga, pertumbuhan tinggi tidak selalu membuat investor puas.

Pasar modal juga melihat seberapa efisien perusahaan menghasilkan keuntungan.

Belanja modal yang terlalu besar dapat menekan laba jangka pendek meskipun pendapatan meningkat pesat.

Kesimpulan

Laporan keuangan perdana SpaceX sebagai perusahaan publik memperlihatkan transformasi besar yang sedang terjadi. Perusahaan yang dulu dikenal hampir semata-mata sebagai pembuat roket kini berkembang menjadi konglomerat teknologi yang memiliki tiga mesin bisnis utama: peluncuran antariksa, internet satelit Starlink, dan kecerdasan buatan.

Fakta bahwa pendapatan segmen AI kini telah melampaui bisnis peluncuran roket menunjukkan perubahan arah industri teknologi global. Nilai sebuah perusahaan tidak lagi hanya ditentukan oleh produk fisik yang dihasilkannya, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem digital, layanan cloud, dan infrastruktur AI.

Meski demikian, transformasi tersebut datang dengan biaya yang sangat besar. Investasi agresif pada pusat data dan komputasi AI membuat SpaceX masih harus mengorbankan profitabilitas jangka pendek. Kini perhatian investor bukan lagi pada apakah SpaceX mampu tumbuh, melainkan apakah pertumbuhan besar tersebut pada akhirnya dapat diubah menjadi keuntungan yang berkelanjutan.