Jelajahi
AI & Technology

Vibe Coding - Cara Baru Ngoding Pakai AI yang Lagi Jadi Tren

M Tajul Munandar
17 September 2025 378 Views 2 min read

Kalau dulu ngoding identik dengan nulis baris demi baris kode secara manual, sekarang muncul tren baru yang mulai banyak dibicarakan: Vibe Coding.

Singkatnya, Vibe Coding adalah metode pemrograman yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan kode berdasarkan instruksi bahasa alami. Jadi, developer cukup menuliskan “prompt” atau instruksi dalam bahasa sehari-hari, dan AI akan menerjemahkannya menjadi potongan kode yang bisa langsung dijalankan.


Bagaimana Cara Kerja Vibe Coding?

  1. Tulis Instruksi Bahasa Alami
    Misalnya: “Buatkan kalkulator sederhana dengan tombol tambah, kurang, kali, dan bagi.”

  2. AI Terjemahkan ke Kode
    Tools vibe coding berbasis AI akan otomatis generate kode dalam bahasa pemrograman tertentu (misalnya Python, JavaScript, atau Swift).

  3. Developer Refining
    Programmer bisa ngecek, mengedit, atau menambahkan detail sesuai kebutuhan proyek.


Keunggulan Vibe Coding Dibanding Ngoding Manual


Kenapa Vibe Coding Jadi Tren Baru?

  1. Didorong AI Generatif → perkembangan AI kayak Gemini, ChatGPT, Copilot bikin vibe coding makin gampang diakses.

  2. Demand Tech Talent Tinggi → perusahaan cari cara biar workflow lebih efisien.

  3. Akses Buat Non-Tech → orang kreatif/non-programmer bisa coba bikin aplikasi tanpa harus belajar coding bertahun-tahun.

  4. Gen Z & Millennial Friendly → generasi baru suka tools yang cepat, fleksibel, dan praktis.


Apakah Vibe Coding Bisa Jadi Job Baru?

Yes, banget. Karena skill “ngoding dengan AI” udah mulai dilirik perusahaan. Bahkan ada role baru kayak:


Tantangan Vibe Coding

Meski keren, vibe coding juga punya tantangan:


Kesimpulan

Vibe Coding bukan cuma tren, tapi representasi masa depan cara kerja programmer. Dengan bantuan AI, siapa pun bisa bikin kode dari instruksi bahasa alami. Cepat, mudah, dan lebih inklusif.

👉 Pertanyaannya sekarang, kamu siap belajar vibe coding biar gak ketinggalan tren kerja masa depan?