Industri drama pendek (microdrama) berbasis AI di China sedang meledak, dan itu memunculkan cara baru mencari penghasilan tambahan: menjual izin penggunaan wajah sendiri. Bukan menjual wajah secara fisik tentu saja, tapi memberi izin agar wajah seseorang dipindai dan diolah AI menjadi karakter digital yang bisa "berakting" di drama-drama pendek tersebut.
Fenomena ini tumbuh seiring melonjaknya produksi microdrama bertenaga AI di China — mayoritas dari puluhan ribu judul yang rilis dalam beberapa bulan terakhir dilaporkan sudah memakai AI dalam proses produksinya. Skala produksinya sendiri terbilang masif: industri microdrama China dikenal memproduksi ribuan judul baru setiap bulan, dengan durasi tiap episode hanya sekitar 1-3 menit, dirancang khusus untuk kebiasaan menonton cepat di ponsel. Ketika AI masuk ke rantai produksi ini, kebutuhan akan wajah manusia sebagai bahan baku karakter digital pun melonjak drastis, karena setiap judul baru butuh wajah-wajah baru agar penonton tidak bosan melihat karakter yang itu-itu saja.
Sejumlah platform online pun mulai berperan sebagai perantara jual-beli lisensi wajah, menghubungkan pemilik wajah dengan rumah produksi yang butuh karakter digital. Model bisnisnya mirip seperti marketplace foto stok, hanya saja yang "dijual" bukan foto siap pakai, melainkan hak untuk mengolah wajah seseorang menjadi aset digital yang bisa dipakai berulang kali di berbagai produksi.
Caranya cukup sederhana: pengguna mengunggah foto atau memindai wajah mereka di studio rekanan, lalu data itu diolah jadi model digital yang bisa dipakai berulang kali di berbagai judul drama. Untuk setiap penggunaan, pemilik wajah mendapat bayaran per episode atau per lisensi gambar — nilainya bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah setara mata uang lokal, tergantung platform dan durasi pemakaian. Sebagian platform bahkan menawarkan skema royalti berkelanjutan, di mana pemilik wajah tetap mendapat bayaran tambahan setiap kali karakter digitalnya dipakai di produksi baru — mirip konsep royalti musik, tapi untuk wajah.
Bagi sebagian orang, terutama yang tidak berprofesi sebagai aktor, ini terdengar seperti penghasilan pasif yang menarik: cukup difoto atau dipindai sekali, lalu "wajah digital" itu bisa terus menghasilkan tanpa mereka harus benar-benar syuting atau berakting.
Kenapa Rumah Produksi Tetap Butuh Wajah Asli?
Meski videonya sepenuhnya dibuat AI, produser tetap membutuhkan referensi wajah manusia sungguhan supaya karakter digital yang dihasilkan terlihat realistis dan variatif — bukan cuma wajah generik hasil generate AI yang terasa "seragam". Semakin beragam wajah yang tersedia dalam basis data, semakin fleksibel juga rumah produksi menciptakan karakter baru tanpa harus casting aktor sungguhan.
Ada juga pertimbangan praktis dari sisi produksi: memakai aktor sungguhan berarti harus mengurus jadwal syuting, lokasi, kostum, hingga risiko sang aktor terlibat skandal yang bisa merugikan citra drama. Karakter digital berbasis wajah berlisensi menghilangkan sebagian besar hambatan ini — produksi bisa jalan lebih cepat, lebih murah, dan karakternya "selalu siap kerja" kapan saja dibutuhkan.
Sisi Gelapnya: Wajah Dipakai Tanpa Izin
Di balik cerita soal cuan tambahan ini, muncul juga kasus-kasus yang jauh lebih rumit. Beberapa figur publik di China mendapati wajah mereka muncul di drama AI tanpa pernah memberi izin sama sekali — termasuk digambarkan sebagai karakter antagonis dengan citra yang jauh berbeda dari kehidupan asli mereka. Beberapa kasus yang sempat ramai diberitakan melibatkan figur publik yang wajahnya diduga dipakai tanpa izin di produksi drama AI, lengkap dengan karakter dan alur cerita yang mereka sendiri tidak pernah setujui — bahkan digambarkan dengan sifat dan perilaku yang jauh dari citra asli mereka di dunia nyata.
Yang membuat kasus semacam ini makin pelik adalah sulitnya melacak dari mana data wajah tersebut awalnya diambil. Sebagian pihak menduga AI dilatih memakai kumpulan foto yang pernah diunggah sendiri oleh korban ke media sosial bertahun-tahun lalu — jauh sebelum teknologi semacam ini ada, sehingga korban tidak pernah membayangkan foto lama mereka bisa berakhir dipakai untuk tujuan yang sama sekali di luar kendali mereka.
Sejumlah di antaranya kini menempuh jalur hukum terhadap platform dan rumah produksi terkait, menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran hak citra diri. Sebagai respons, beberapa platform besar sudah mulai menurunkan konten yang dipermasalahkan dan menyatakan akan memperketat proses verifikasi sumber data wajah sebelum dipakai produksi berikutnya — meski implementasinya di lapangan masih jadi tanda tanya besar.
Kasus-kasus ini membuka perdebatan baru: sampai mana batas wajar penggunaan wajah seseorang oleh AI, dan siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi penyalahgunaan — platform, rumah produksi, atau pembuat model AI-nya sendiri? Sejauh ini, regulasi soal hak citra digital di banyak negara belum benar-benar mengejar kecepatan perkembangan teknologinya, sehingga korban seringkali harus berjuang sendiri lewat jalur hukum konvensional yang belum tentu dirancang untuk kasus se-spesifik ini.
Kenapa Ini Relevan buat Indonesia?
Industri konten pendek berbasis AI juga mulai merambah ke berbagai negara, termasuk tren serupa yang bisa saja muncul di Indonesia seiring makin murahnya biaya produksi video AI. Beberapa rumah produksi konten digital lokal juga sudah mulai mengeksplorasi microdrama sebagai format hiburan baru, mengikuti tren yang lebih dulu populer di China dan mulai merambah pasar Asia Tenggara.
Bagi pelaku industri kreatif, konten digital, hingga talent/influencer lokal, fenomena ini jadi pengingat penting soal pentingnya memahami hak cipta dan hak citra diri sebelum data wajah atau suara dipakai oleh pihak ketiga — termasuk membaca baik-baik ketentuan setiap platform yang menawarkan "lisensi wajah" semacam ini. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum ikut tren serupa:
- Baca detail kontrak lisensi, bukan cuma soal berapa bayarannya, tapi juga sampai kapan izin berlaku, apakah bisa dicabut, dan untuk jenis konten seperti apa saja wajah boleh dipakai.
- Cari tahu siapa pemegang hak akhir atas data wajah yang sudah diunggah — apakah platform, rumah produksi, atau pihak ketiga lain yang bisa menjual lagi lisensinya.
- Waspada skema yang terlalu longgar soal penggunaan, misalnya izin "tanpa batas waktu dan tanpa batas jenis konten" — ini berisiko wajah dipakai untuk hal-hal yang tidak pernah dibayangkan pemiliknya.
Di sisi lain, fenomena ini juga membuka diskusi menarik buat pelaku industri kreatif dan marketing digital di Indonesia: sejauh mana teknologi serupa bisa dimanfaatkan secara etis, misalnya untuk kebutuhan iklan atau konten yang memang disetujui penuh oleh talent-nya, tanpa jatuh ke pola eksploitatif seperti yang sedang jadi sorotan di China saat ini.